Seorang gadis yang tak punya
kuasa/ orang Kampung( tidak mengenal pendidikan,baca tulis, rendahnya
pengetahuan agama) dinikahkan dengan priyayi Jawa yang notabene Kyai. Hubungan
suami istri tersebut lebih mirip dengan hubungan Majikan dan Budak, Bendoro dan
sahaya . Bendoro digambarkan sebagai sosok yang kurus,pucat,tak berotot tapi
mengapa selalu ditakuti semua orang, semua oranng selalu bersimpuh dihadapannya
dan tak berani menatap mata bendoro. Bendoro bersitrikan sahaya walaupun punya
anak selusinn masih dibilang perjaka sampai menikahi dengan wanita yang
sederajat.Memang orang yang terlahir jadi bendoro selamanya akan jadi bendoro,
orang yng terlahir sebagai sahaya selamanya jdi sahaya.Sahaya hidupnya selalu
menderita bahkan kelahirannyapun merupakan penderitaan.Gadis pantai setelah
melahirkan putrinya, putrinyapun jadi bendoronya sendiri
Malang
memang hidup sebagai sahaya tidak punya kekuatan apa-apa dan tak punya apa-apa,
selalu jadi makan orang kota, terasi udang hasil warga kampung nelayan cuma
dibeli berapa benggol oleh tengkulak tionghoa,dan dijual berkali-kali lipat
dikota. rugi benar nasib nelayan, berangkat sore hari pulang pagi hari
penghasilan tak sebanding dengan kerja kerasnya.
Suaminya
atau lebih tepat bendoronya menceraikan gadis pantai dan langsung diusir dari
gedung yang selama ini ditinggali. Putrinya adalah milik bendoro tidak boleh
ikut bersama gadis pantai. Gadis pantai dilempar begitus saja dari gedung dia
tinggal.sekarang dia kembali menjadi sahaya. sayang Buku karangan pram
menggantung ceritanya karena pembredelan buku oleh penguasa.
Pram
selalu mengangkat sosok wanita dalam setiap karyanya, kartini,gadis pinggir
pantai dan tetralogi pulau buru. pram menggambarkan sosok makhluk yang lemah
tak berdaya terbelakang menjadi sosok yang luar biasa pandai, menawan dan
dihormati walaupun ketika mencapai proses tersebut membuat sosok wanita keluar
dari pakemnya dan mengalami pengorbanan yang besar.
hal
ini tak lepas dari sosok pram yang mendambakan kemerdekaan tanpa penindasan
baik kolonial maupun oleh bangsanya sendiri dalam takhayul-takhayul. Pram
seperti sebuah korek membakar kayu bakar semangatnya menyebar ,namun sayang
nasibnya kurang dihargai oleh bangsanya sendiri.Memang benar ujar
pram"kamu boleh memiliki ilmu setinggi-tingginya,tapi jika kamu tidak
menulis,zaman akan menelanmu,Menulis adalah bekerja untuk Keabadian."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar