jam

Minggu, 30 Oktober 2016

Gadis Pinggir Pantai Dan Pram



Seorang gadis yang tak punya kuasa/ orang Kampung( tidak mengenal pendidikan,baca tulis, rendahnya pengetahuan agama) dinikahkan dengan priyayi Jawa yang notabene Kyai. Hubungan suami istri tersebut lebih mirip dengan hubungan Majikan dan Budak, Bendoro dan sahaya . Bendoro digambarkan sebagai  sosok yang kurus,pucat,tak berotot tapi mengapa selalu ditakuti semua orang, semua oranng selalu bersimpuh dihadapannya dan tak berani menatap mata bendoro. Bendoro bersitrikan sahaya walaupun punya anak selusinn masih dibilang perjaka sampai menikahi dengan wanita yang sederajat.Memang orang yang terlahir jadi bendoro selamanya akan jadi bendoro, orang yng terlahir sebagai sahaya selamanya jdi sahaya.Sahaya hidupnya selalu menderita bahkan kelahirannyapun merupakan penderitaan.Gadis pantai setelah melahirkan putrinya, putrinyapun jadi bendoronya sendiri
                Malang memang hidup sebagai sahaya tidak punya kekuatan apa-apa dan tak punya apa-apa, selalu jadi makan orang kota, terasi udang hasil warga kampung nelayan cuma dibeli berapa benggol oleh tengkulak tionghoa,dan dijual berkali-kali lipat dikota. rugi benar nasib nelayan, berangkat sore hari pulang pagi hari penghasilan tak sebanding dengan kerja kerasnya.
                Suaminya atau lebih tepat bendoronya menceraikan gadis pantai dan langsung diusir dari gedung yang selama ini ditinggali. Putrinya adalah milik bendoro tidak boleh ikut bersama gadis pantai. Gadis pantai dilempar begitus saja dari gedung dia tinggal.sekarang dia kembali menjadi sahaya. sayang Buku karangan pram menggantung ceritanya karena pembredelan buku oleh penguasa.
                Pram selalu mengangkat sosok wanita dalam setiap karyanya, kartini,gadis pinggir pantai dan tetralogi pulau buru. pram menggambarkan sosok makhluk yang lemah tak berdaya terbelakang menjadi sosok yang luar biasa pandai, menawan dan dihormati walaupun ketika mencapai proses tersebut membuat sosok wanita keluar dari pakemnya dan mengalami pengorbanan yang besar.
                hal ini tak lepas dari sosok pram yang mendambakan kemerdekaan tanpa penindasan baik kolonial maupun oleh bangsanya sendiri dalam takhayul-takhayul. Pram seperti sebuah korek membakar kayu bakar semangatnya menyebar ,namun sayang nasibnya kurang dihargai oleh bangsanya sendiri.Memang benar ujar pram"kamu boleh memiliki ilmu setinggi-tingginya,tapi jika kamu tidak menulis,zaman akan menelanmu,Menulis adalah bekerja untuk Keabadian."