jam

Sabtu, 22 Juni 2013

BATU Vs BATU


           Hidup di Bumi Tuhan, Bertindak atas nama Tuhan, Tegaknya Hukum sebuah keharusan. Di jalan, disekolah dirumah terdapat aturan yang harus ditaati. Bahkan di toilet ada pula hukumnya “ SIRAMLAH SESUDAH BUANG HAJAT”. Peraturan dibuat untuk kebaikan bersama. Mekanisme ini sudah disepakati dan wajib dilaksanakan. Sayangnya bagaimana jika mekanisme yang ada tidak dipakai?

            Lapas Cebongan, berawal dari kematian anggota Kopassus di Hugos Cafe. Timbullah pertunjukan yang menghebohkan seluruh negeri ini. Tewasnya tersangka pembunuh anggota kopassus, yang menghebohkan lagi mereka tewas dalam serangan terhadap lapas. Usut punya usut ternyata pelaku penyerangan adalah oknum Kopassus, dengan alasan jiwa korsa. Tapi apakah memeng benar begitu?

            Pembangunan yang tidak merata dan kesenjangan ekonomi yang begitu besar antara penduduk kota dengan desa membuat masyarakat urbanisasi. Di desa sawah tandus, lapangan pekerjaan sempit, makanan kekurangan cepat atau lambat mereka akan mati menderita. Ketika melihat TV bak Raja para pemain sinetron hidup berkecukupan ini itu bisa di beli tapi bagi penduduk desa Notting. Jangankan mau mikir kesehatan makan saja sudah pas-pasan.

            Kota besar bak tambang emas menarik para semut-semut datang ke kota. Dengan minimnya kemampuan mereka kerja serabutan. Hidup keras di kota membuat mereka melakukan apa saja. Di tunjang keadaan senasib-sepenanggungan maka orang-orang daerah bersatu dan melakukan tindakan yang dapat membuat perut kenyang. Siapa yang Disalahkan RAKYAT ATAU PEMERINTAH?
            Premanisme jelas mengganggu Keamanan dan ketertiban, Lantas Siapa yang diberi kewajiban Negara untuk menjaga Keamanan dan Ketertiban? Maksimalkah kinerja mereka. Mari kita flashback peristiwa akhir-akhir ini Ditetapkannya DS sebagai tersangka kasus simulator sim, masyarakat awam pun juga sudah tahu bagaimana pungli dalam setiap mekanisme pembuatan SIM. Anehnya nyata bin ajaib disubuah tempat pembuatan SIM terdapat Tulisan Pembuatan SIM C Rp 80.000,00 tetapi di tempat yang sama diruangan berbeda Pembuatan SIM C Rp 75.000,00. Aneh tapi ada itu baru selisih 5000 but mekanisme tidak jelas dlam pembuatan SIM bun membuat mereka tertipu para pungli yang merupakan orang 3, benarkah orang 3 ini bekerja sendiri atau ada sesosok hitam gelap dibelakangnya?

            Pungli oleh oknum polisi badung bali terhadap waga asing, jelas membuat kita malu dimata internasional. Setelah meminta Pungli oknum tersebut meminta bir wisatawan dan meminumnya hahahahah bikin ngakakk aja nih ulah oknum gemesin J

            Segala sesuatu yang berkaitan dengan penegakkan hukum pasti membutuhkan duit dan untuk masyarakat miskin yang jelas-jelas ra gableg duwet apakah hukum bisa tegak? Penyerangan Oknum ke Lapas jelas merupakan tindak pelanggaran hukum, tetapi alangkah baiknya kita melihat penyebabnya dan tidak langsung menjudge itu pelanggaran HAM. Ketika Batu dibenturkan batu, kekerasan dilawan kekerasan yang hancur dua-duanya.

            Penyerangan ini tentu sudah di ketahui para inteljen tapi aneh kok g dicegah ya? Dengan kasus ini diharapkan semua aparat hukum berbenah diri dan menegakkan hukum seadil-adilnya bukan karena uang maupun jabatan tapi karena kepentingan Nusa dan Bangsa J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar