Hidup
di Bumi Tuhan, Bertindak atas nama Tuhan, Tegaknya Hukum sebuah keharusan. Di
jalan, disekolah dirumah terdapat aturan yang harus ditaati. Bahkan di toilet
ada pula hukumnya “ SIRAMLAH SESUDAH BUANG HAJAT”. Peraturan dibuat untuk kebaikan
bersama. Mekanisme ini sudah disepakati dan wajib dilaksanakan. Sayangnya
bagaimana jika mekanisme yang ada tidak dipakai?
Lapas Cebongan, berawal dari
kematian anggota Kopassus di Hugos Cafe. Timbullah pertunjukan yang
menghebohkan seluruh negeri ini. Tewasnya tersangka pembunuh anggota kopassus,
yang menghebohkan lagi mereka tewas dalam serangan terhadap lapas. Usut punya
usut ternyata pelaku penyerangan adalah oknum Kopassus, dengan alasan jiwa
korsa. Tapi apakah memeng benar begitu?
Pembangunan yang tidak merata dan
kesenjangan ekonomi yang begitu besar antara penduduk kota dengan desa membuat
masyarakat urbanisasi. Di desa sawah tandus, lapangan pekerjaan sempit, makanan
kekurangan cepat atau lambat mereka akan mati menderita. Ketika melihat TV bak
Raja para pemain sinetron hidup berkecukupan ini itu bisa di beli tapi bagi
penduduk desa Notting. Jangankan mau mikir kesehatan makan saja sudah
pas-pasan.
Kota besar bak tambang emas menarik
para semut-semut datang ke kota. Dengan minimnya kemampuan mereka kerja
serabutan. Hidup keras di kota membuat mereka melakukan apa saja. Di tunjang
keadaan senasib-sepenanggungan maka orang-orang daerah bersatu dan melakukan
tindakan yang dapat membuat perut kenyang. Siapa yang Disalahkan RAKYAT ATAU
PEMERINTAH?
Premanisme jelas mengganggu Keamanan
dan ketertiban, Lantas Siapa yang diberi kewajiban Negara untuk menjaga
Keamanan dan Ketertiban? Maksimalkah kinerja mereka. Mari kita flashback
peristiwa akhir-akhir ini Ditetapkannya DS sebagai tersangka kasus simulator
sim, masyarakat awam pun juga sudah tahu bagaimana pungli dalam setiap
mekanisme pembuatan SIM. Anehnya nyata bin ajaib disubuah tempat pembuatan SIM
terdapat Tulisan Pembuatan SIM C Rp 80.000,00 tetapi di tempat yang sama
diruangan berbeda Pembuatan SIM C Rp 75.000,00. Aneh tapi ada itu baru selisih
5000 but mekanisme tidak jelas dlam pembuatan SIM bun membuat mereka tertipu
para pungli yang merupakan orang 3, benarkah orang 3 ini bekerja sendiri atau
ada sesosok hitam gelap dibelakangnya?
Pungli oleh oknum polisi badung bali
terhadap waga asing, jelas membuat kita malu dimata internasional. Setelah
meminta Pungli oknum tersebut meminta bir wisatawan dan meminumnya hahahahah
bikin ngakakk aja nih ulah oknum gemesin J
Segala sesuatu yang berkaitan dengan
penegakkan hukum pasti membutuhkan duit dan untuk masyarakat miskin yang
jelas-jelas ra gableg duwet apakah hukum bisa tegak? Penyerangan Oknum ke Lapas
jelas merupakan tindak pelanggaran hukum, tetapi alangkah baiknya kita melihat
penyebabnya dan tidak langsung menjudge itu pelanggaran HAM. Ketika Batu
dibenturkan batu, kekerasan dilawan kekerasan yang hancur dua-duanya.
Penyerangan ini tentu sudah di
ketahui para inteljen tapi aneh kok g dicegah ya? Dengan kasus ini diharapkan
semua aparat hukum berbenah diri dan menegakkan hukum seadil-adilnya bukan
karena uang maupun jabatan tapi karena kepentingan Nusa dan Bangsa J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar