jam

Kamis, 11 Juli 2013

MAJU MUNDUR KENA





            Melihat judulnya pasti temen-temen akan diingatkan dengan film warkop DKI “maju mundur kena”. Saya tidak akan bernostalgia tentang film warkop, kawan. Pernahkan kawan-kawan melakukan sesuatu hal dengan keraguan? Takut gagal?takut disalahkan dan kumpulan ketakutan lainnya. Bagaimana hasil akhir dari tindakan kawan-kawan yang dilandasi keraguan? Pasti hasilnya jauh dari harapan, bukan begitu?
            Tak masalah seberapa bodoh anda dan seberapa hancur hidup anda sebelumnya. Ketika ada hal baru didepan anda, sedangkan keraguan menempel dihatimu jangan takut kawan semua orang pernah mengalaminya. Berikut ini tips dari sahabatmu :
1.      Tinjau permasalahan secara logis, hindari sikap bingung sendiri.
2.      Pertimbangkan solusi yang ada
3.      Hitung risiko dari setiap solusi anda
4.      Lakukan solusi dengan Penuh keberanian, Dengan anda bertindak berani akan lebih mudah ketika anda memperbaiki kesalahan yang terjadi.
Saya berasal dari keluarga biasa, dan tidak punya keinginan yang muluk-muluk. Suatu hari saudara saya membeli mobil baru. Saya disuruh mencoba, tentu saya takut sekali ,takut kalau mobilnya lecet, takut kalau nabrak orang, takut kalau dibilang sok pamer. Paman saya mngejek “ kalau kamu g bisa nyetir mobil, dikantor kamu akan direndahkan, dan kurang bergunaa bagi atasanmu” jleb jlebbb atiitt rasanya. Kakak saya mendorong ayo lah belajar Cuma butuh keberanian dan pandai haluan kok ayo ayao ayo. Akhirnya saya mencoba mngendarai mobil sendiri dan ternyata saya juga bisa lhoooo hahahah # g nyangkaaaaa its wonderfull.
Kawan Jangan sekali-kali keraguan mengalahkanmu dan membuatmu terkubur dalam ilusi ketakutan. Kita terlahir sebagai HOMO SAPIENS= MAKHLUK BERPIKIR, soo jngan sampai dikerdilkan oleh pikiran-pikiran negatifmu. YAKIN USAHA SAMPAI J

KEAJAIBAN ITU LUAR BIASA



         

          Kuliah diluar kota itu menyenangkan karena kita dapat menikmati hal-hal yang sebelumnya tak pernah terbayangkan. Sedihnya pulang setahun hanya 4 kali hiksss. Peristiwa ini berawal dari liburan PKL, Kami arek-arek Blitar mendapat tempat PKL di blitar jadi ya pulang kampung lah. Dari Jakarta-Blitar kami naik kereta mataremaja(kereta hot) karena  dijamin anda berkeringat di dalamnya hahahah. Kami berenam waktu itu saya, hendro, syuhada’,mbah din, reza, dan yayan.

         Di dalam Kereta kami duduk terpisah, saya dan syuhada’ duduk di kursi depan 7 C dan 7 E sedangkan yang lainnya duduk dikursi belakang 20-an. Saya dan hada’ ngobrol ngalor ngidul. Rupanya bangku disamping saya diisi oleh nenek-nenek. Saya pun menyapa beliau tapi kok balesannya kok anehhh bahasa jawa bukan, bahasa indonesia juga bukan, kedengerannya sih seperti bahasa sunda. Dengan lugu-lugu bak prawan, nenek itu berkata dia dari sukabumi dia dari desa dulunya g sekolah jadi g ngerti apa-apa sambil mesam-mesem.

Tiba-tiba ada seorang bapak sekitar 50 tahunan ikut nimbrung
Bapak 50’s : Adek tahu yang dibicarakan oleh nenek?
Saya     : sedikit- sedikit saya tahu bapakk
Bapak 50’s: maklum dek nenek dari desa dan g pernah sekolahh
Saya     : Jhehehe
Nenek  : balalalabalabaala intinya adek mau turun dimana?
Saya     : blitar nek, kalau nenek?
Nenek  : malang dex, cucu nenek yang anaknya bapak tadi, mau nikahan besok kami sekeluarga mau kesana. Ini menantu saya juga orang blitar.
Saya     : ohh orang blitar tooo heehe
Nenek : iya nak,

Tiba-tiba ada sesosok wanita cantik lewat matanya bulat bagai boneka barbie, rambutnya lurus mirip raisa dan parasnya mirip julia estella. Benar-benar tipe gue bangettttttt.
Nenek : ini cucu saya dia anak menantu sayaa.
Saya     : heh
Nenek  : iya menantu saya itu sebelumnya pernah nikah dan dia dikarunia satu anak cewek tapi.. tapii karena anaknya tuna rungu, ayahnya tidak mau mengakuinya sehingga mereka bercerai. Ohhh
Saya     : aku kira Cuma ada di sinetron aja hal ini terjadi (ehhhmmm batin dihati)
          
Kawan kita terkadang melihat orang lain selalu lebih baik dari kita tapi sebenarya yang kita bandingkan adalah kelebihan orang lain dengan kekurangan kita. Kawan, setiap manusia memiliki masalah jadi bersyukurlah karena kamu adalah satu-satunya pemenang dari 200 juta sperma yg berhasil membuahi sel telur. Buat kamu yang jadi ayah “ terimalah anakmu apa adanya dia adalah KARUNIA TERINDAH YANG TUHAN BERIKAN J

Jumat, 05 Juli 2013

Happiness in intelligent people is the rarest thing I know.


- Ernest Hemingway, author and journalist, Nobel laureate (1899-1961)
Hemingway, who took his own life in 1961, knew his share of both intelligent people and of unhappiness. He lived through two world wars, the Great Depression, four wives and an unknown number of failed romantic relationships, none of which would help him to develop happiness if he knew how.
As Hemingway’s quote was based on his life experience, I will base the following speculation on both my personal and my professional experience as a sociologist. Not enough study exists to quote on this subject.
Western society is not set up to nurture intelligent children and adults, the way it dotes over athletes and sports figures, especially the outstanding ones. While we have the odd notable personality such as Albert Einstein, we also have many extremely intelligent people working in occupations that are considered among the lowliest, as may be attested by a review of the membership lists of Mensa (the club for the top two percent on intelligence scales).
Education systems in countries whose primary interest is in wealth accumulation encourage heroes in movies, war and sports, but not in intellectual development. Super intelligent people manage, but few reach the top of the business or social ladder.
Children develop along four streams: intellectual, physical, emotional (psychological) and social.
In classrooms, the smartest kids tend to be left out of more activities by other children than they are included in. They are “odd,” they are the geeks, they are social outsiders. In other words, they do not develop socially as well as they may develop intellectually or even physically where opportunities may exist for more progress.
Their emotional development, characterized by their ability to cope with risky or stressful situations, especially over long periods of time, also lags behind that of the average person.
Adults tend to believe that intelligent kids can deal with anything because they are intellectually superior. This inevitably includes situations where the intelligent kids have neither knowledge nor skills to support their experience. They go through the tough times alone. Adults don’t understand that they need help and other kids don’t want to associate with kids the social leaders say are outsiders.

http://xroads.virginia.edu/~UG03/radio/biopics/intellectual.gif As a result we have many highly intelligent people whose social development progresses much slower than that of most people and they have trouble coping with the stressors of life that present themselves to everyone. It should come as no surprise that the vast majority of prison inmates are socially and emotionally underdeveloped or maldeveloped and a larger than average percentage of them are more intelligent than the norm.
Western society provides the ideal incubator for social misfits and those with emotional coping problems. When it comes to happiness, people who are socially inept and who have trouble coping emotionally with the exigencies of life would not be among those you should expect to be happy.
This may be changing in the 21st century as the geeks gain recognition as people with great potential, especially as people who might make their fortune in the world of high technology. Geeks may be more socially accepted than in the past, but unless they receive more assistance with their social and emotional development, most are destined to be unhappy as they mature in the world of adults.
People with high intelligence, be they children or adults, still rank as social outsiders in most situations, including their skills to be good mates and parents.
Moreover, they tend to see more of the tragedy in the communites and countries they live in, and in the world, than the average person whose primary source of news and information is comedy shows on television. Tragedy is easier to find than compassion, even though compassion likely exists in greater proportion in most communities.
Bill Allin

Sabtu, 22 Juni 2013

Gugur Bunga

BATU Vs BATU


           Hidup di Bumi Tuhan, Bertindak atas nama Tuhan, Tegaknya Hukum sebuah keharusan. Di jalan, disekolah dirumah terdapat aturan yang harus ditaati. Bahkan di toilet ada pula hukumnya “ SIRAMLAH SESUDAH BUANG HAJAT”. Peraturan dibuat untuk kebaikan bersama. Mekanisme ini sudah disepakati dan wajib dilaksanakan. Sayangnya bagaimana jika mekanisme yang ada tidak dipakai?

            Lapas Cebongan, berawal dari kematian anggota Kopassus di Hugos Cafe. Timbullah pertunjukan yang menghebohkan seluruh negeri ini. Tewasnya tersangka pembunuh anggota kopassus, yang menghebohkan lagi mereka tewas dalam serangan terhadap lapas. Usut punya usut ternyata pelaku penyerangan adalah oknum Kopassus, dengan alasan jiwa korsa. Tapi apakah memeng benar begitu?

            Pembangunan yang tidak merata dan kesenjangan ekonomi yang begitu besar antara penduduk kota dengan desa membuat masyarakat urbanisasi. Di desa sawah tandus, lapangan pekerjaan sempit, makanan kekurangan cepat atau lambat mereka akan mati menderita. Ketika melihat TV bak Raja para pemain sinetron hidup berkecukupan ini itu bisa di beli tapi bagi penduduk desa Notting. Jangankan mau mikir kesehatan makan saja sudah pas-pasan.

            Kota besar bak tambang emas menarik para semut-semut datang ke kota. Dengan minimnya kemampuan mereka kerja serabutan. Hidup keras di kota membuat mereka melakukan apa saja. Di tunjang keadaan senasib-sepenanggungan maka orang-orang daerah bersatu dan melakukan tindakan yang dapat membuat perut kenyang. Siapa yang Disalahkan RAKYAT ATAU PEMERINTAH?
            Premanisme jelas mengganggu Keamanan dan ketertiban, Lantas Siapa yang diberi kewajiban Negara untuk menjaga Keamanan dan Ketertiban? Maksimalkah kinerja mereka. Mari kita flashback peristiwa akhir-akhir ini Ditetapkannya DS sebagai tersangka kasus simulator sim, masyarakat awam pun juga sudah tahu bagaimana pungli dalam setiap mekanisme pembuatan SIM. Anehnya nyata bin ajaib disubuah tempat pembuatan SIM terdapat Tulisan Pembuatan SIM C Rp 80.000,00 tetapi di tempat yang sama diruangan berbeda Pembuatan SIM C Rp 75.000,00. Aneh tapi ada itu baru selisih 5000 but mekanisme tidak jelas dlam pembuatan SIM bun membuat mereka tertipu para pungli yang merupakan orang 3, benarkah orang 3 ini bekerja sendiri atau ada sesosok hitam gelap dibelakangnya?

            Pungli oleh oknum polisi badung bali terhadap waga asing, jelas membuat kita malu dimata internasional. Setelah meminta Pungli oknum tersebut meminta bir wisatawan dan meminumnya hahahahah bikin ngakakk aja nih ulah oknum gemesin J

            Segala sesuatu yang berkaitan dengan penegakkan hukum pasti membutuhkan duit dan untuk masyarakat miskin yang jelas-jelas ra gableg duwet apakah hukum bisa tegak? Penyerangan Oknum ke Lapas jelas merupakan tindak pelanggaran hukum, tetapi alangkah baiknya kita melihat penyebabnya dan tidak langsung menjudge itu pelanggaran HAM. Ketika Batu dibenturkan batu, kekerasan dilawan kekerasan yang hancur dua-duanya.

            Penyerangan ini tentu sudah di ketahui para inteljen tapi aneh kok g dicegah ya? Dengan kasus ini diharapkan semua aparat hukum berbenah diri dan menegakkan hukum seadil-adilnya bukan karena uang maupun jabatan tapi karena kepentingan Nusa dan Bangsa J